Kabar  

Menyiapkan Generasi Emas 2045, SMP Negeri 2 Kalasan Tekankan Pendidikan Akhlak

Kegiatan Pengajian Oang Tua dan Murid Kelas 8 SMP Negeri 2 Kalasan di Masjid Al Huda, SMP Negeri Kalasan pada Sabtu 10 Oktober 2026 dengan menghadirkan penceramah Ustadz Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I., M.H. (Foto: Istimewa)

SLEMAN — Membentuk anak yang cerdas secara akademik belum cukup untuk menyiapkan generasi masa depan. Orang tua juga perlu membiasakan perilaku baik, memberi teladan, dan memperkuat pendidikan agama agar anak tumbuh dengan akhlak dan kemandirian.

Pesan itu disampaikan Ustadz Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I., M.H., dalam Pengajian Orang Tua dan Murid Kelas 8 SMP Negeri 2 Kalasan di Masjid Al Huda, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Dalam tausiah tentang pentingnya akhlak dan sopan santun, Endri mengatakan pendidikan karakter tidak bisa dilakukan hanya melalui nasihat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan penghormatan kepada orang lain perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Supaya menjadi karakter, harus ada pembiasaan. Untuk orang tua, mendidik anak dengan pembiasaan adalah ibadah. Harus sabar. Jangan lupa juga mendoakan anak,” kata Endri.

Ia mengingatkan orang tua agar menjaga perkataan ketika menegur anak. Kemarahan, menurut dia, tidak seharusnya menjadi alasan untuk melontarkan ucapan buruk.

“Semua ucapan orang tua adalah doa. Jadi kalau marah, keluarkan kata yang baik,” ujarnya.

Endri juga meminta orang tua mendampingi anak dalam memilih kegiatan dan lingkungan pergaulan. Anak perlu diarahkan untuk mengisi waktu dengan aktivitas positif sesuai minatnya.

“Sibukkan dengan yang baik, sampai lupa yang tidak baik,” katanya.

Namun, pendampingan itu tidak berarti orang tua harus selalu memenuhi keinginan anak. Endri menilai kemandirian perlu dilatih sejak dini, termasuk dengan mengajarkan anak berusaha sebelum memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Ia mencontohkan, orang tua dapat mengajarkan anak menabung ketika ingin membeli sepeda. Dengan begitu, anak belajar memahami proses, kesabaran, dan tanggung jawab.

Dalam hal keagamaan, Endri mengingatkan para siswa untuk menjaga salat lima waktu serta menghormati orang tua dan guru. Ia berharap para siswa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

“Salat lima waktu jangan ketinggalan karena salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Semoga murid Kelas 8 SMP Negeri 2 Kalasan ini menjadi anak saleh dan salehah, menjadi generasi emas, menjadi pemimpin masa depan yang cerdas intelektual, berkarakter, berakhlak mulia,” tuturnya.

Ketua POT Kelas 8 SMP Negeri 2 Kalasan, Yudiati Ratih Prasasti, mengatakan pengajian rutin tiga bulanan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat keimanan sekaligus membangun kerja sama antara orang tua dan sekolah.

Menurut dia, pendidikan anak tidak bisa dibebankan hanya kepada salah satu pihak. Sekolah bertugas mendidik dan mengembangkan potensi siswa, sedangkan keluarga menjadi tempat pertama anak belajar tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, dan kasih sayang.

“Kita semua tentu memiliki harapan yang sama. Kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berprestasi, berakhlak mulia, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki bekal agama yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman,” kata Yudiati.

Ia menegaskan, POT Kelas 8 SMP Negeri 2 Kalasan akan mendukung program sekolah yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan siswa.

“POT Kelas 8 SMP Negeri 2 Kalasan berkomitmen mendukung setiap program dan kegiatan sekolah demi pendidikan terbaik untuk putra-putri kami,” ujarnya.

Kepala SMP Negeri 2 Kalasan, Hadi Suparmo, S.Pd., M.Pd., mengatakan keterlibatan orang tua merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi emas Indonesia 2045. Menurut dia, pendidikan perlu memperhatikan perkembangan intelektual dan spiritual siswa secara seimbang.

“Kami ucapkan terima kasih kepada pengurus POT Kelas 8 yang telah menyelenggarakan acara ini. Semoga dengan mengikuti kegiatan pengajian ini, akan menambah pengetahuan dan bekal kita dalam mendidik anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga secara spiritual untuk menyiapkan generasi emas 2045,” kata Hadi.

Ia mengingatkan bahwa siswa saat ini akan menjadi penerus kepemimpinan bangsa. Karena itu, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 perlu dimulai melalui pendidikan yang melibatkan sekolah dan keluarga.

“Anak-anak kita kelak akan menggantikan estafet kepemimpinan. Mereka akan menjadi pemimpin masa depan di tahun emas yang harus kita persiapkan sejak saat ini,” ujarnya.

Pengajian tersebut menjadi salah satu upaya orang tua dan sekolah untuk menyelaraskan pendidikan di rumah dengan pembinaan di lingkungan sekolah. Pembiasaan akhlak, penguatan ibadah, dan latihan kemandirian diharapkan membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)

Exit mobile version