Video  

Udin Baca Puisi

Udin Baca Puisi

Ada Sesuatu Yang Aneh di Depan Rumahku

Oleh: Aprinus Salam


Kami sibuk ngomongin politik. Kami sibuk ngomongin ekonomi. Si Udin sibuk berpikir memahami sesuatu. Di ruang bekas garasi pondok a.salam Kalimasada, 18 September 2026, di tengah ngerumpi politik nasional, aku lihat Udin matanya sering menerawang.

Begitulah, selesai berdiskusi tentang masa depan bangsa, masa depan negara, dan masa depan teater, spontan saya meminta Udin untuk membaca puisi.

Mulanya Udin sedikit keberatan, karena merasa tidak ada persiapan. Aku bilang, anggap saja semacam casting. “Asal-asalan saja. Sembarang saja.” Aku menambahkan.

Aku pun asal melangkah, ke mana sebaiknya Udin aku rekam baca puisi. Akhirnya, tanpa sengaja aku melangkah ke depan rumah.

Karena musim kemarau, rumput terlihat kering, terlihat sedikit darurat. Dengan setting rumah kayu bekas yang diplitur, aku berharap suasana bisa sedikit tradisional. Entahlah, namanya juga harapan.

Kemudian, Udin membaca puisi. Menurutku pembacaan puisinya aneh. Kenapa aneh, karena aku suka. Kenapa aku suka, karena ada sesuatu yang berbahaya di dalamnya.

Ada tiga keanehan yang mungkin berbahaya. Pertama, Udin tampil dalam kesederhanaan, tanpa rekayasa, dengan suara yang utuh, dan bicara tentang cinta yang menggelepar.

Kedua, ada sesuatu di dalam suara puitiknya yang otentik, bukan karena latihan, tetapi lebih sebagai anugrah yang tidak semua orang mendapatkannya. Ada magnit dalam penampilannya yang sederhana dan asal-asalan itu.

Ketiga, resistensi yang radikal adalah bagaimana melihat dunia dengan cinta. Udin tampak belajar banyak tentang puisi-puisi Rumi dan Attar. Tapi, ia juga belajar secara sosial bagaimana memahami negerinya.

Persoalannya, apakah kesederhanaannya yang aneh, atau keanehan yang sederhana itu memang bisa berbahaya?

Berbahaya, karena di dalamnya ada pesona atau aura. Seperti kata Weber, dunia mudah dimanipulasi, karena kekuatan pesona yang bisa menahannya telah terkikis bahkan hilang.

Walter Benjamin mengatakan bahwa seni juga banyak kehilangan aura sehingga seni lebih sebagai kerajinan yang tidak lagi cukup berharga. Aura adalah spiritualitas-nilai yang secara inheren seharusnya ada dalam seni yang otentik.

Membaca puisi di depan rumah, dengan penonton yang hanya enam orang, dan cahaya lampu yang berusaha mengatasi gelap malam, menjadi suatu keanehan yang tidak mengikuti zaman.

Indonesia terus bergerak, demonstrasi bergerak, korupsi semakin marak, hukum tersedak, dan kami akan terus membacakan puisi sambil sok-sok bagak. (*)

Exit mobile version