Kabar  

Rektor UIN Jogja Batalkan Sepihak Festival Keadilan Tanpa Alasan Jelas

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Al Makin (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA – Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Al Makin, gagalkan Festival Keadilan, tanpa alasan yang jelas. Acara yang digelar Social Movement Institut (SMI) bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mulanya diadakan di Gor Tenis UIN, akhirnya harus bergeser di Bento Kopi Godean pada Minggu 10 Desember 2023 pukul 19.00 WIB, setelah gagal pula bertempat di Balakosa Coffe.

Festival ini dibatalkan Al Makin secara sepihak sehari sebelum tanggal kegiatan lantaran dianggap sebagai kegiatan politik. Ia merasa tidak dimintai izin padahal menurut informasi yang diterima, kegiatan ini resmi disetujui oleh Abdur Rozaki, Wakil Rektor III yang menaungi bidang kemahasiswaan. Dibuktikan dengan adanya surat perizinan tempat sejak 4 Desember yang ditandatangani langsung oleh WR III dan Dema Universitas.

“Bahaya. Semua acara politik gak boleh,” ungkap Rektor Prof Al Makin melalui pesan Whatsapp yang disiarkan di Instagram SMI.

Festival ini menghadirkan Rocky Gerung, Haris Azhar, Fatia Maulidyanti dan banyak aktivis lainnya. Menurut Ruwaidah, panitia Festival, pembatalan ini diduga sebab adanya tekanan politik kepada rektor UIN Jogja.

“Setelah adanya pembatalan, pihak rektorat tidak ada konfirmasi kepada saya. Padahal secara prosedur kegiatan ini sudah resmi. Upaya-upaya untuk audiensi juga tidak digubris,” jelas Presma kepada Tunggal.co sembari menunjukkan guliran chatnya dengan rektor yang jarang sekali dibalas.

Kehendak rektor UIN Jogja juga menjadi perbincangan dari banyak pihak. Termasuk Rocky Gerung saat menyampaikan orasinya.

“Ini kota pelajar, tapi rektornya kurang ajar,” ujar Rocky disambut dengan sorakan ramai audiens. Ia mengajak semua untuk kembali menghidupkan kebebasan akademik yang akhir-akhir ini marak dinodai oleh otoriternya pihak-pihak kampus.

Pindah-pindahnya tempat acara tidak mengurangi semangat seluruh kalangan khususnya generasi muda untuk menghadiri festival ini. Caffe penuh, bahkan overload dan berjubel hingga luar caffe. Selain orasi dari banyak aktivis nasional, festival ini diawali dan diakhiri dengan penampilan Kepal SPI dengan lagu-lagu khas yang mengalunkan suara-suara rakyat. (Yuniar Avicenna)

Exit mobile version