Kabar  

Lim Jooi Soon dan Nevy Amalia Nanholy Hadiri Kunjungan Studi dan Forum Diskusi Ilmiah Program Studi Studi Agama-agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Lim jooi soon tengah, Nevy Amalia Nanholly (paling kanan) bersama para Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Foto: tunggal.co)

YOGYAKARTA – Dalam rangka Kunjungan Studi dan Forum Diskusi Ilmiah, Lim Jooi Soon dan Nevy Amalia Nanholy Kunjungi Program Studi Studi Agama-agama UIN Sunan Kalijaga. Kunjungan Studi dan Forum Diskusi Ilmiah ini mengangkat tema “Konversi Agama”.

Acaranya dilaksanakan pada Jum’at, 9 Juni 2023 di ruang Profesorisasi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dihadiri oleh para dosen dan perwakilan mahasiswa yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama.

Forum ini dibuka langsung oleh Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., MA. (Kaprodi Studi Agama-agama). Ia menyambut dan menyampaikan antusiasnya kepada Lim Jooi Soon selaku narasumber yang berasal dari Interactive Dakwah and Tarbiyah Association (IDT) Malaysia. Pendakwah asal Malaysia ini berbagi cerita tentang pengalamannya dalam mencari Tuhan.

Lim Jooi Soon menyampaikan berbagai cerita menarik tentang pengalamannya mencari Tuhan dan menemukan ketertarikan kepada Islam. Proses hijrahnya terbagi menjadi tiga fase. Buddha, Kristen dan Islam. Latar belakang keluarga membuatnya terlahir sebagai penganut Buddha. Ia menghabiskan 13 tahun sebagai umat Buddha. Simbolisasi tuhan yang erat dalam agama Buddha membuat hati Lim Jooi Soon kecil bergejolak. Pada fase ini Ia sebatas mengetahui bahwa Tuhan itu ada tanpa mengetahui apa maksud adanya Tuhan.

Memasuki umur 14 ia mulai tertarik dengan ajaran Kristen. Ketertarikannya terhadap agama Kristen dimulai dari kebaikan pendeta di dekat rumahnya. Konsep cinta dan kasih dalam agama Kristen sangat melekat dalam pribadi pendeta. Setelah mengikuti beberapa acara di gereja ia semakin tertarik, Ia pun memutuskan untuk masuk agama Kristen dan menjadi seorang Kristiani selama 14 tahun.

Selanjutnya ia tertarik kepada agama Islam, hal ini bermula saat ia membaca salah satu ayat al-Qur’an, yaitu surat al-Baqarah ayat 255 yang menjelaskan keberadaan Tuhan. Ayat ini membuatnya semakin tertarik untuk mendalami agama Islam dan proses pencariannya terhadap Tuhan. Ia pun memutuskan untuk berkonversi menjadi seorang muslim.

Setelah memasuki agama Islam, ia mendalami konsep Tuhan dalam Islam. Menurutnya, Tuhan memiliki lima syarat untuk bisa disebut sebagai pencipta. Sebagai pencipta, Tuhan harus kekal, abadi dalam kehidupan manapun. Tidak ada kelahiran maupun kematian yang dilewati oleh pencipta, sebab Tuhan tidak terikat dengan sesuatu dan bergantung terhadap apapun, sehingga tidak diperlukan sifat seperti yang dimiliki oleh ciptaan (makhluk) yang butuh makan, minum, istirahat dan sebagainya.

Namun dalam fase ini ia juga mengalami kegelisahan dan gejolak hati. Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam yang memuat firman Allah, tetapi kebenarannya ditanyakan apakah al-Qur’an merupakan kitab suci yang paling benar atau ada kitab lainnya yang bisa membenarkan keberadaan Tuhan. Ia pun memiliki Kegelisahannya terhadap keaslian al-Qur’an. Namun kegelisahan tersebut menjadi sebuah keyakinan saat ia semakin mendalami Al-Qur’an. Ia terkagum dengan Al-Qur’an yang menurutnya memiliki bahasa yang hidup, dan isinya relevan dengan kehidupan manusia.

“Hidayah itu diberikan Allah kepada manusia setiap saat, tetapi tidak semua orang dapat menerima hidayah itu. Sebab kebenaran terhadap Allah belum bisa diakui di dalam hatinya jika masih terdapat keragu-raguan,” jelasnya saat menutup forum diskusi Ilmiah. (Rif’atul Maula)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *