YOGYAKARTA — PT Taru Martani kembali menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan pekerja dan nilai kemanusiaan. Direktur Utama PT Taru Martani, Widayat Joko Priyanto, secara langsung menjenguk salah satu karyawan yang mengalami sakit berkepanjangan, Yatinah.
Kunjungan pada Kamis (7/5/2026) menjadi kali ketiga dilakukan jajaran manajemen perusahaan sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, PT Taru Martani telah lebih dulu melakukan kunjungan pada Januari dan Maret 2026 sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan karyawannya.
Manajemen juga menyerahkan bantuan sembako kepada Yatinah dan keluarganya. Kehadiran langsung Direktur Utama dinilai menjadi bentuk kepedulian perusahaan yang tidak hanya sebatas hubungan kerja, tetapi juga kekeluargaan.
Diketahui, Yatinah telah satu tahun tidak dapat bekerja akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Meski demikian, selama masa sakit tersebut perusahaan tetap memenuhi seluruh hak karyawan sesuai regulasi dan ketentuan yang berlaku.
Direktur Utama PT Taru Martani, Widayat Joko Priyanto, menegaskan bahwa perusahaan memandang karyawan sebagai aset utama yang harus dihargai, termasuk ketika menghadapi masa sulit.
“Karyawan adalah aset utama perusahaan. Bagi kami di PT Taru Martani, hubungan antara perusahaan dan karyawan bukan sekadar hubungan kerja, tetapi juga hubungan kekeluargaan yang sudah terbangun selama puluhan tahun,” ujarnya.
Menurut Widayat, santunan dan kunjungan yang dilakukan manajemen merupakan bentuk penghargaan atas loyalitas dan pengabdian karyawan selama bekerja di perusahaan cerutu legendaris tersebut.
“Santunan ini bukan hanya bantuan materi, tetapi juga simbol penghargaan atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian mereka kepada perusahaan,” katanya.
Pada kesempatan itu, pihak perusahaan juga menjelaskan bahwa berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), masa kerja karyawan dapat berakhir apabila mengalami sakit berkepanjangan lebih dari 12 bulan dan tidak lagi mampu menjalankan pekerjaan.
Meski demikian, PT Taru Martani memastikan seluruh hak pesangon Yatinah telah dibayarkan penuh sesuai ketentuan PKB. Bahkan, manajemen menunjukkan langsung bukti transfer kepada Yatinah dan memintanya memeriksa rekening pribadi untuk memastikan dana telah diterima.
Sikap perusahaan tersebut membuat Yatinah mengaku terharu dan bersyukur. Ia menyebut perhatian yang diberikan perusahaan selama dirinya sakit membuatnya merasa tetap dianggap sebagai bagian keluarga besar PT Taru Martani.
Yatinah juga mengaku bangga pernah bekerja di PT Taru Martani sejak 8 Agustus 1996. Selama hampir tiga dekade mengabdi, ia pernah bertugas sebagai pelaksana pelinting hingga terakhir menjabat sebagai pelaksana packing cerutu.
Dalam suasana penuh haru itu, Yatinah berharap anaknya kelak dapat melanjutkan pengabdian di perusahaan tersebut. Harapan itu pun langsung mendapat respons positif dari Direktur Utama PT Taru Martani.
Widayat Joko Priyanto meminta agar anak Yatinah segera mengirimkan lamaran kerja ke perusahaan. Ia bahkan langsung meminta bagian SDM yang turut hadir dalam kunjungan tersebut untuk membantu proses lamaran kerja itu.
Langkah PT Taru Martani ini dinilai menjadi contoh praktik hubungan industrial yang humanis di tengah tantangan dunia kerja modern. Tidak hanya memastikan hak pekerja dipenuhi, perusahaan juga menunjukkan kepedulian sosial dan pendekatan kekeluargaan yang jarang ditemui di dunia industri saat ini. (*)
