YOGYAKARTA – Kawasan cagar budaya Kotabaru, Yogyakarta, menjadi saksi peringatan momen bersejarah bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (JAI). Bertempat di Masjid Fadhli Umar, Jalan Atmosukarto No. 15, JAI Cabang Yogyakarta menggelar acara Tasyakuran 100 Tahun Jemaat Muslim Ahmadiyah di Indonesia pada Minggu 28 Desember 2025. Acara ini menandai satu abad keberadaan komunitas tersebut di bumi Nusantara.
Peringatan satu abad ini mengusung tema besar “Mengalirkan Kasih Sayang, Menguatkan Toleransi, Menjadi Pahlawan Kemanusiaan”. Tema tersebut terpampang di panggung utama, menyiratkan pesan bahwa peringatan ini bukan sekadar perayaan eksistensi, melainkan peneguhan kembali komitmen sosial komunitas tersebut di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Sejarah mencatat, tahun 1925 merupakan tonggak awal masuknya Jemaat Muslim Ahmadiyah di Indonesia. Selama rentang waktu 100 tahun tersebut, Jemaat Ahmadiyah telah melalui berbagai dinamika zaman, mulai dari era kolonial, masa perjuangan kemerdekaan, hingga fase pembangunan bangsa saat ini. Momentum tahun 2025 ini digunakan untuk merefleksikan kembali perjalanan panjang tersebut.
Ketua Jemaat Ahmadiyah Indonesia Cabang Yogyakarta, Sugiyarno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberadaan JAI selama satu abad ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah umat Islam di Indonesia. Pihaknya menekankan pentingnya rasa syukur atas karunia usia panjang organisasi ini sembari terus berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Dalam acara yang berlangsung khidmat sejak pukul 10.00 WIB ini, narasi kebangsaan menjadi salah satu poin sentral. JAI Yogyakarta menegaskan posisinya dalam menjunjung tinggi Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini sekaligus menepis berbagai anggapan miring yang kerap dialamatkan kepada kelompok minoritas, dengan membuktikan kesetiaan pada konsensus bernegara.
Semangat inklusivitas terlihat dari ragam undangan yang hadir. Tidak hanya Jamaah Ahmadiyah, acara ini turut mengundang Kemenag DIY, UNU, UIN Sunan Kalijaga, jejaring lintas iman, pendeta dan gerakan pemuda Simpul Iman Community (SIM-C). Perjumpaan antar-elemen ini menjadi bukti bahwa dialog dan silaturahmi adalah kunci untuk meruntuhkan tembok prasangka yang selama ini mungkin terbangun kokoh.
“Saya sudah lama mengenal dengan Jamaah Ahmadiyah Yogyakarta. Kami kerap bersama-sama membangun upaya kerukunan dan berkolaborasi dengan berbagai elemen. Kita masih sering mendengar isu-isu intoleransi dan diskriminasi. Peringatan 100 tahun ini diharapkan menjadi titik tolak baru untuk semakin menguatkan toleransi dan menebarkan kasih sayang bagi seluruh anak bangsa tanpa memandang perbedaan,” jelas Boydo Hutagalung, Pendeta GPIB Margamulyo.
Di sela-sela acara, pesan-pesan perdamaian terus didengungkan. Sebuah slogan berbunyi “Memancarkan Islam Penuh Cinta dan Kedamaian” yang menghiasi latar panggung menjadi penegas wajah Islam yang ramah yang ingin ditampilkan oleh Jemaat Ahmadiyah. Pesan ini relevan dengan konteks keberagaman di Indonesia yang harus terus dirawat.
Kegiatan digelar di lantai 4 gedung Masjid Fadhli Umar yang terletak di jantung Kotabaru. Gedung tersebut selama bertahun-tahun telah menjadi pusat kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Yogyakarta dalam membina umat dan melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. (Yuniar Avicenna)
