Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓
Opini  

Presiden dan Burung-Burung

Aprinus Salam

Oleh: Aprinus Salam (Warga Sleman, Bumi Mataram)


SEJAK awal kehidupan, sejak Adam, manusia tidak sama sifatnya. Ada yang kuat dan ada yang lemah. Dalam perjalannnya, agar tidak saling berebutan, perlu ada yang menata. Sejak itulah ada kekuasaan dan relasi kuasa di dalamnya.

Burung-burung hadir di dekat kita. Berterbangan ke sini dan ke sana.

Masyarakat Nusantara juga bertebaran. Dari dulu sudah ada yang disebut kekuasaan dan kerajaan. Cara mendapatkannya perlu berjuang (dalam berbagai cara), ada pertengkaran, dan setelah berkuasa, dalam berbagai cara akan dipertahankan.

Berbagai prasasti, candi-candi sepi, dan berbagai peninggalan sebagai bukti, bahwa kekuasaan telah terpatri. Ada dongeng tentang kerajaan yang jinawi, dan sangat banyak dongeng kekuasaan yang zalim dan rakyat mati.

Kemudian, Nusantara dijajah Eropa. Sangat lama Nusantara dalam masa duka. Penjajahan itu sendiri meninggalkan trauma, yang hingga hari ini masih berjejak-rusak bangsa.

Untuk mendapatkan kemerdekaan, entah berapa nyawa anak bangsa kesakitan. Entah berapa banyak air mata berlinang. Kita tahu, akhirnya 1945 Nusantara merdeka, menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelajaran pentingnya, mandiri berkuasa dan berdaulat atas nama bangsa sendiri itu berat. Perlu banyak yang melarat dan nyawa melayang berkarat-karat.

Burung-burung berterbangan, membangun sarang, tidak pernah merancang masa depan, dan terus terbang dengan riang.

Soekarno belajar jadi presiden pertama. Bertahun perekenomian tidak tertata dan semakin berantakan. Perkelahian lokal atas nama revolusi nasional meruyak. Kepemimpinan Soekarno dihentikan pada 1965.

Jejak permusuhan kembali berkorban, ratusan ribu nyawa manusia Indonesia melayang. Tapi, buru-burung juga melayang.

Soeharto tampil sedikit gagah. Perlahan tapi pasti, kekuasan Soeharto tampil dengan wajah sangar dan pongah. Tapi, pelan-pelan rakyat Indonesia melawan. Ujungnya, Mei 1998, kekuasaan Soeharto diruntuhkan.

Habibie terpaksa berkuasa, tapi beliau bukan orang yang sangar untuk memimpin bangsa besar. Gus Dur naik, beliau terlalu demokratis dan orang yang kurang percaya diri, dan dengan mudah disingkiri.

Burung-burung beranak-pinak, ditangkap diperjualbelikan, sebagian ditangkap dimakan. Sebagian untuk mainan. Sebagian masuk kebun binatang.

Tapi, kekuasaan model Soeharto, Soekarno, dalam varian yang berbeda dan menyakitkan, terus bertahan. Kekuasaan para pendahulu itu menjadi model kekuasaan peniru, dengan wajah yang lebih saru.

Megawati berkuasa, apa-apa mulai dijual dan tidak meninggalkan kebaikan apa-apa. Rakyat tetap papa.

SBY mengambil alih mandat, pemimpin yang suka nyanyi dan curhat. Apa-apa menjadi plakat.

Jokowi berjuang dalam berbagai cara. Kembali, politik menghalalkan segala. Sudah banyak kita diberi informasi, bagaimana Jokowi memimpin negari.

Indonesia berhutang parah, kesejahteraan menjadi fantasi yang tak terarah.

Kini, Si Gemoy Prabowo presiden. Dulu, belum jelas jadi presiden, dia menyelenggarakan acara syukuran jadi presiden. Kita lihat, sejumlah orang menghadap ”Selamat Pak Presiden”, Selamat Pak Presiden”.

Perlahan tapi pasti, si Gemoy berakumulasi dan bertransformasi, merapal hal-hal buruk dari kekuasaan peresiden sebelumnya. Sibuk pidato menceritakan kehebatan kebijakannya.

Burung-burung kalut, terbang dengan takut. Anak-anak burung menunggu di sarang dengan kosong perut.

Masyarakat gundah, para warga serba salah, tak tahu harus berbuat apa. Aku sendiri hanya bisa menulis sambil berkata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *